Sabtu, 17 Juli 2010

Spirit

Aku meregangkan badanku yang pegal, aku keasyikan di depan laptop hingga tak ingat waktu. Astaga, sudah tengah malam rupanya, aku harus cepat tidur. Segera kumatikan laptopku dan kurebahkan diri di kasur empukku. Rasa pegal membuat kesadaranku dengan cepat menghilang, ditimang oleh empuknya kasur dan wangi lembut parfum paris hilton yang tercium dari meja riasku. Dan aku merasa terbang...
Astaga...
Ini sih benar-benar terbang! Aku melihat keseluruhan kamarku dari sudut pandang yang aneh, sudut pandang diluar diriku, selolah aku sesuatu yang melayang hampir menyentuh plafon kamarku. Dan jasadku...terbaring di kasur, terdiam. Astaga, apakah aku mati?!?!
TIDAAAAAAAKKK!
Lho...lho...aku merasa melayang semakin tinggi hingga menembus plafon kamarku dan langsung menembus ke atap rumahku di lantai tiga.
"Tolooong! Toloooong!" Aku berteriak takut karena tubuh ini melayang tanpa bisa dikendalikan. Entah harus bersyukur atau takut, aku menjumpai sosok pemuda di atap rumahku.
"Ada apa?" Dia menghapiriku dengan bingung. gerakannya begitu ringan.
"Aku nggak bisa ngontrol gerakanku! Tiba-tiba aku melayang tanpa arah, nggak tau kenapa!" Aku mengadu panik, bodo amatlah siapa atau apa yang ada di hadapanku ini.
Ia menyeringai, OMG, ternyata ia IKEMEN (cowok keren). Garis mukanya terlihat seperti aktor drama jepang yang pernah kutonton. Ia tinggi, gagah, berkulit putih, beralis tebal, bermata tajam, garis rahangnya kaku tegas, apalagi dengan rambutnya yang rada acak tapi berkonsep, benar-benar cowok impianku. Seperti tokoh utama cowok di shoujo manga yang sering kubaca. Dan...ia memegang tanganku tiba-tiba! Tapi, aku kembali teringat keadaanku yang mengkhawatirkan ini.
"Apa aku sudah mati?" Tanyaku khawatir. Ia juga tampaknya bukan manusia, terbukti dengan gerakannya yang ringan dan tidak memijak tanah, tapi ia tetap keren sih.
"Mungkin!" Ia mengangguk sambil memutar bola mata, berpikir. "Tapi mungkin juga belum!" Ia lalu menjelaskan. "Kadang kudengar ada juga kasus jiwa lepas dari raga ketika tidur, tapi jiwa itu bisa kembali lagi, alias hanya sementara! Mungkin kamu seperti itu!"
Heran dengan rupanya yang sangat chinese namun bahasa indonesianya sangat lancar, aku jadi tergelitik rasa penasaran. "Kamu...siapa sih?"
Ia lalu tersenyum, "Aku Naruto Honda, penunggu uhm...penjaga rumah ini!"
Aku sempat ternganga, lalu mulai tidak tahan untuk tidak tertawa. "Hmpphh...he..he...he..ha ha ha ha!" Namanya benar-benar paduan yang menarik.
Kulihat wajah cute cowok itu cemberut padaku, lucu sekali. "Jangan ketawa donk! Aku tau kok namaku menggelikan! Naruto itu tokoh anime, dan Honda merek mobil kan?"
"Lho kok tau?!?!" Heranku.
"Aku kan juga sering melihat aktivitas orang-orang di sekelilingku!" Katanya.
Aku mulai kasihan membuatnya manyun terus, sepertinya aku perlu membalas perkenalan ini. "Oke Naruto, namaku..."
"Lanisha Geina Putri, panggilannya Nisha. Hobi baca shoujo manga dan suka nyanyi-nyanyi soundtrack anime dengan asbun!" Tanpa diminta Naruto melanjutkannya, memotong penjelasan Nisha.
Aku jadi cengar-cengir salting. "Hehehe, kok tau sih?" Celetukku mencoba mengalihkan topik. Sumpah, aku malu! Ia pasti sudah tahu semua keburukanku juga.
"Seperti yang aku bilang tadi!" Ia tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dan badanku kembali goyah, hendak terbang lagi. Untung Naruto sigap memegang tanganku lagi.
"Eh iya, aku harus panggil apa nih? Honda?" Aku ingat kebiasaan orang jepang, jangan asal panggil nama kecilnya.
"Udah, Naruto aja!" Ia menolak santai.
"Oke deh, Naruto...Gimana...cara kembaliin aku ke ragaku nih?" Aku kembali cemas dengan nasibku. Takutnya jiwa ini terlepas jauh dari ragaku dan tidak bisa kembali.
"Biasanya sih tinggal menunggu subuh aja, waktu mentari mulai muncul kamu harus cepat menyatukan diri dengan ragamu!" Ia memberitahu dengan yakin.
Aku nyengir maksa kali ini, tak bisa membayangkan lamanya waktu yang akan kulalui dengan ketidak pastian ini. "Aku takut!" Ucapku jujur, apalagi aku memang penakut. "Aku takut ngelihat hantu atau semacamnya!"
"Hei, aku kan hantu!" Naruto mengingatkan.
"Yah, maksudnya hantu yang seram gitu!" Aku menjelaskan lebih rinci agar tidak ada yang tersinggung. "Kalau sama kamu sih oke aja!" Aku menunduk dengan mata melirik pemuda itu, berharap ia menawarkan bantuan lagi.
"Udahlah, aku temenin deh!" Ia merangkul pundakku. Aku memang tidak bisa merasakan degup jantungku kini, tapi kalaupun ada, aku pasti deg-degan banget. "Mungkin supaya kamu merasa lebih aman kita ke kamarmu aja!" Ia menuntunku untuk turun, menembus lantai. Dan aku di kamarku lagi, bersama Naruto yang menggenggam pergelangan tanganku erat. Bukan apa-apa, ia takut aku melayang tak karuan lagi, tapi itupun sudah membuatku senang.
"Ngobrol aja yuk biar nggak berasa!" Ajaknya santai sambil duduk di tempat tidurku. Aku mengikutinya dengan duduk di sampingnya.
"Kamu kayaknya benar-benar perhatiin kehidupan aku ya?" Heranku, teringat semua yang ia tahu tentangku.
"Ya iyalah, aku sudah lama berada disini, dan cukup terhibur dengan kekonyolan kamu! Huahahahaha!" Sekarang malah dia yang tertawa, aku saja tidak mengerti apa yang ditertawakannya. "Aku ingat, setiap kali kamu baca komik atau nonton anime di laptop, ketawanya pasti nggak tau diri banget sampai-sampai ibu kamu panik mengira kamu kesurupan?"
"Oh yeah, kalo soal itu jangan diingat donk!" Aku menepuk pundaknya. "O iya, kamu...orang Jepang asli? Kok bisa ada di sini?" Aku teringat pertanyaan yang berkecamuk di benakku itu.
"Ingat soal zaman penjajahan Jepang?" Ia memberikan clue dan aku segera paham dengan membentuk bibirku menjadi bentuk o kecil. "Yup, aku tentara Jepang di jaman itu!"
"Ngerti-ngerti! Sugoooiii!" Kagumku dengan sok-sokan berbahasa jepang.
"Hallah, bisanya baru sugoi aja betingkah!" Ledeknya sambil mengacak-acak rambutku.
"Biarin kek, yang penting bisa!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar