Jumat, 16 Juli 2010

Opini Tentang Radithya Dika

Kalo kalian kira akan mendapati tulisan opini kayak di diary SD sprt 

*Centil

*Lucu

*Imut

*Ngegemesin

Maka anda SALAAHH!

Gw nulis ini pas lg liat Kakanda (Duilee) Radith di TV One. Jujur gw salut sma penulis (bodoh) yg satu ini (Sok jaim, padahal suka berat sama tulisannya! KYAAA, Radit, kasih cap jempol donk di kaos emak gw! CAP JEMPOOOOOLLLL!). Bukan karena kepandaiannya kayang dan ketiadaannya urat malu, bukaaan! Saia...gimana yah...hehehehe...merasa banyak kesamaan sama Bang Radit ini(Entah ini sebuah pujian atau hinaan buat orgnya sendiri, atau anda akan menganggap saia gila krn mau disama samain sma dia?!?! Saia sudah pasrah!). Bukan cuma karena sama-sama org batak (Ehem, ingat marga saya Lubis? Oke, makasih kalo tidak ingat, cuma nanya!) dan ulang tahunnya cuma beda sehari (Ini serius, beda tahun tapinya!). Tapi ada kesamaan dengan kami berdua, kami "bangga menjadi aneh, dan jujur dengan keanehan kami". Menurut gw Radith telah MENGGEBRAK Indonesia dengan tulisannya yang jujur dan apa adanya (walau sedikit mempermalukan dirinya sndiri...). Keterbukaan itu yang gw suka. Di saat manusia2 indonesia mati2an berjuang melawan dirinya sendiri demi satu kata "JAIM", Radith MERUNTUHKAN itu semua. Ia seolah memproklamirkan bahwa keanehan itu manusiawi dan KEREN, dan justru sangat TIDAK KEREN dan tidak manusiawi kalau kita tidak mempunyai keanehan (Aneh=gokil=virus yang disebarkan Radith melalui bukunya).

Radith di satu sisi telah mengajarkan pada kita semua untuk "banggalah pada diri sendiri, seaneh apa pun kelakuan kita". Kita seolah diajak untuk sadar bahwa keanehan kita itu menarik dan dapat menjadi daya tarik (Yeah, walaupun gw nggak yakin bakal ada cwo terpesona sama gw kalo gw ikut-ikutan kayang di depan monas kayak dia gitu!). Keanehan itu dapat menjadi ciri khas setiap individu yang pasti berbeda satu sama lain. Seperti anehnya Bang Radith yang suka pakai boxer beraksen sedikit (atau sangat?!?!) bencong seperti yang diujarkannya pada buku Marmut Merah Jambu, kita masing2 pasti juga memiliki sisi yang menurut kita aneh dan memalukan yang selalu kita sembunyikan(apalagi dari gebetan).  Keanehan itulah yang dicoba diangkat Bang Radith dari kesehariannya dan ditulis di buku2nya (Walau agak susah dicerna, knapa pemuda nekat satu ini rela mempermalukan dirinya sendiri?!? Kurang gizikah?!?! Well, gw anggap aja itu sebagai wujud "kerendahan hati", alias ilmu merendahkan diri sendiri.). 

Dia mengangkat harkat, derajat, dan martabat para weirdos yang selama ini tersisihkan dari dunia karena jujur pada keanehan mereka masing2 (Oke, saia ngaku! Saia salah satunya!). Padahal si manusia2 jaim yang selama ini berseliweran belum tentu pula tidak mempunyai sisi aneh dalam sifat dan kehidupannya. Cuma saja mereka mungkin mati2an menutupi kekurangan mereka dan menampik mati2an keanehan mereka yang mereka anggap memalukan (Seperti menggigiti pinggiran bantal mungkin, mencium ketek sendiri, gigitin kuku jempol kaki?!? Atau menciumi bantal kayak saia?!?! AIIH, jadi maluu!). Come on, setiap orang pasti mempunyai sisi konyolnya tersendiri (atau mungkin tingkah memalukan), dan siapa sangka akan menjadi menarik bila itu diceritakan dengan gaya yang menarik. Jadi berhentilah menampik dan menutup-nutupi kekurangan dan keanehan kita, karena, sekali lagi, sangat amat wajar jika manusia memiliki sisi keanehan tertentu. Justru nggak asyik banget kalau kita nggak punya suatu keanehan, jadi nggak unik! 

Jadi buat orang2 yang selama ini sibuk melirik kelakuan orang lain dengan satu alis terangkat, nyinyir dan bergumam "Ikh aneh!" dengan jijay, seolah dia org paling perfect sedunia...

Gue cuma mau bilang "BASI LOE!"

Dan kalau gw kepergok lagi nyolong kolor babe gue buat ngobatin jerawat gue dan ditanya nyokap..."Siapa yang ngajari kamu begitu?"

Dengan mantabb gw bakal jawab "Bang Radith noh!" sambil garuk2 pantat!

Wkwkwkwkwkwkwk...

Maap yak klo ada yg menyinggung!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar